Posted on

In a Valley of Violence (2016)

Ti West, sutradara yang populer di bidang horror dan thriller, mencoba peruntungannya dalam genre western lewat In a Valley of Violence. Dibintangi oleh sederet aktor dan aktris kondang seperti John Travolta, Ethan Hawke dan Taissa Farmiga serta diproduseri oleh Jason Blum yang pernah membidani beberapa film ternama seperti Paranormal Activity, Sinister dan Insidious, ekspektasi penggemar berat film bertema koboi cukup tinggi untuk film berbujet cukup rendah ini.

Film in a valley of violence mengisahkan tentang seorang pria bernama paul (Ethan Hawke) yang baru saja tiba di sebuah kota kecil. Kedatangan paul bukan tanpa alasan yang pasti, ia pergi ke kota tersebut karena rasa dendam. Teman baiknya telah dibunuh oleh sekelompok orang tanpa alasan yang jelas.

Hal tersebut lantas membuat paul begitu sakit hati, hingga akhirnya ia memutuskan untuk mencari para pembunuh temannya tersebut untuk melakukan aksi balasan terhadap kematianm temannya tersebut. Di kota kecil tersebut terdapat seorang pria seorang pemimpin yang di namakan The Marshal ( John Travolta ). Paul harus mencari tahu dan membalaskan dendam atas apa yang telah dialaminya dari para orang-orang yang telah menyakitinya.

Film-film western memang tidak mudah dieksplorasi dalam bidang penceritaan. Kehidupan keras dunia koboi, percintaan sang tokoh dengan perempuan di kota yang sama, duel pistol demi kehormatan, hingga karakter mabuk yang sering mendukung peredaran bir saat menjadi gubernur merupakan sebagian besar kisah yang melatarbelakangi sinema western. Latar tempat yang dipakai juga banyak memiliki kesamaan antara satu film dengan film lainnya. In a Valley of Violence berpotensi jatuh ke lubang kebosanan seperti hasil karya western yang lain. Untungnya, akting Ethan Hawke beserta para pemeran pendukung sukses menghidupkan suasana tegang sekaligus mengasyikkan.

Seperti beberapa film western terdahulu, In a Valley of Violence menambahkan bumbu komedi pada setiap aksinya. Tidak selalu berhasil, memang. Tapi, jika sekedar memancing tawa kecil, dialog-dialog jenaka dari Marshal, Paul, dan kawan-kawan Gilly cukup baik dalam menjalankan tugasnya. Kalimat-kalimat seperti “Tubby is not my real name, I’m Lawrence.” atau “ I will call you whatever you want, but please, stay out of the goddamn window.” membuat anda yang menonton nya mengembangkan senyum dan sedikit tertawa.

Sosok seorang Paul memang bukanlah protagonis tanpa cacat. Masa lalunya yang kelam dan kondisinya kini memaksa dia menjadi pria yang kasar dan tanpa ampun. John Travolta sebagai ayah yang menyayangi putranya namun terlalu memanjakan berpadu apik dengan karakter Paul, dan Gilly yang menyebalkan namun bodoh. Penokohan Gilly dalam In a Valley of Violence mengingatkan saya pada sosok lelaki pengecut namun arogan yang suka menindas rakyat kecil dan menistakan agama lain. Sayangnya, Gilly bukan koboi dari pesisir Belitung.

Patut disayangkan, In a Valley of Violence mengakhiri kisahnya terlalu klise. Adegan tembak-menembak di akhir cerita memang cukup menegangkan dan bisa dinikmati, namun setelah itu, tidak banyak perbedaan dengan sesama film koboi yang sudah-sudah. Endingnya mudah ditebak dan tidak memberikan kejutan bagi penonton.

Tagline: A man can only take so much!
Cast: , , , , , , , , , , , , ,
Director: ,
Country:
Release:
Language: English
Revenue: $ 53.647,00

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *